PPM Sumut Melebur, Sultan HMMSU: Sumatra Utara Bersatu, Subhanallah - Informatika Mesir

Terbaru

Informatika Mesir

Informatika adalah "Informasi Akurat Insan Cendekia". Motto Informatika “Membangun Masa Depan dengan Dialog dan Komunikasi”. Informatika merupakan media yang bersifat informatif, dialogis, komunikatif dan transformatif. Informatika resmi didirikan di Kairo pada tahun 1995. Kantor redaksi Informatika bertempat di Wisma Nusantara 8/006, Wahran Street Rabeah el-Adawea Nasr City Cairo, Egypt.

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 17 Maret 2019

PPM Sumut Melebur, Sultan HMMSU: Sumatra Utara Bersatu, Subhanallah

MPA HMMSU, MPA PPM Sumut, Raja PPM Sumut, Sultan HMMSU, Presiden PPMI serta BPA PPMI Mesir.

Kairo, Informatikamesir.com – Jumat (15/3) pukul 22.00 CLT menjadi catatan sejarah meleburnya Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Sumatra Utara (PPM Sumut) ke Himpunan Mahasiswa dan Masyarakat Sumatra Utara setelah kurang lebih 20 tahun terpisah. Aula PPM Sumut dipenuhi para tamu undangan dan anggota kekeluargaan.
Sidang Istimewa PPM Sumut pada tanggal 27 Januari 2019 menjadi pijakan dalam peleburan kedua organisasi kekeluargaan ini. Selama dua bulan ini kedua belah pihak secara intens melakukan dialog untuk menentukan sikap, sehingga pada saat berita ini ditulis sudah mendapatkan titik temu.

Sultan HMMSU, Azrial Afithar Hasibuan memberikan sambutan pertama pada acara ini dengan optimis, “Sumatra Utara bersatu, Subhanallah Insya Allah ini akan menjadi batu loncatan bagi kita semua orang Sumatra Utara untuk berdinamika menjadi insan yang produktif, sehingga menimbulkan sebuah prestasi-prestasi yang mana bisa kita bawa pulang ke Indonesia, dan menjadi guru, dosen, bahkan rektor. Marilah kita bersama-sama menuju Sumatra Utara yang berprestasi.”
Siddik Sipahutar selaku Raja (Demisioner) PPM Sumut yang juga berangkat dari daerah yang sama dengan Azrial  yaitu Rantau Prapat, menceritakan perjalanan awal ketika baru tiba di Mesir, “Ketika tiba itu saya bersama kawan Darul Arafah disambut, dan pada saat itu kami kebingungan kenapa kami setelah itu ddipisah. Ternyata setelah itu orang asal Sumatra Utara terbagi dua, saya sangat sedih ketika itu. Kami dari satu pesantren, kami dari satu ibu, kami dari satu kelas, ketika sampai di Mesir, eh tiba-tiba kami sudah dipisah, katanya itu sudah dari dulu dan pada malam ini yang dulu-dulu itu ayo kita selesaikan. Tidak ada lagi kata-kata dulu,” terangnya.

Proses berlangsungnya sidang meleburnya PPM Sumut ke HMMSU.

Kekeluargaan Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) merupakan Lembaga Otonom dari Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, maka dari itu turut hadir Presiden PPMI Mesi memberikan dukungan, “Turut bangga dan senang mendengar kabar dari undangan Raja PPM Sumut Siddik Sipahutar, karena malam ini merupakan catatan sejarah bagi kawan-kawan yang mungkin masih baru atau mungkin empat-lima tahun di Mesir yang tidak tahu dulu sejarahnya seperti apa, kita sebagai warga sama-sama mendukung niatan yang baik ini demi tercapainya tujuan-tujuan yang mulia ke depannya, dan mudah-mudahan dengan bergabungnya HMMSU dan PPM Sumut ini akan terlihat kemajuan-kemajuan dari mahasiswa Indonesia asal provinsi Sumatra Utara,” pungkasnya.

“Ketika saya datang ke Mesir saya terkaget-kaget melihat tanah kelahiran saya ternyata terbagi menjadi dua, tapi alhamdulillah hari ini saya masih diberikan oleh Allah Swt. kesempatan untuk hidup, dan kesempatan untuk masih ada di Mesir, serta menyaksikan sejarah bersatunya tanah kelahiran saya,” ungkap Miqdad Rabbani selaku Pimpinan Badan Permusyawaratan Anggota (BPA) PPMI Mesir yang lahir di Sumatra Utara. 

Selanjutnya Miqdad berterima kasih atas kontribusi yang diberikan PPM Sumut dalam mengambil langkah yang sangat membantu kinerja BPA dalam menjalankan tugasnya. Selain itu dia juga berharap akan ada penyatuan kekeluargaan lain. “Kami juga ucapkan kepada teman-teman PPM Sumut sekalian yang sudah membantu kinerja BPA PPMI dengan menyatunya PPM Sumut dan HMMSU, kami sangat berterima kasih sudah terbantu, semoga di hari-hari ke depan semakin ada persatuan-persatuan itu lagi, seperti saya dengar Gamajatim dan Fosgama juga akan bersatu, kita doakan saja semoga akan segera bersatu.”

Khairil Anshari, Pimpinan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PPMI Mesir yang merupakan lembaga tertinggi di PPMI juga memberikan dukungan dan apresiasi, “Penggabungan ini sangat diharapkan, diapresiasi Masisir karena banyak yang ingin melihat persatuan antara Sumatra Utara itu terwujud yang sudah lama terpisah dari tahun 1994. Saya selaku pimpinan MPA PPMI Mesir sangat mengapresiasi dan sangat mendukung penyatuan ini sebagai proses dinamika Masisir ke depannya. Mudah-mudahan Sumatra Utara sebagai suatu kekeluargaan yang utuh bisa lebih solid, bisa lebih baik, dan bisa membanggakan daerahnya.” 

“Pada awalnya mahasiswa asal Sumatra Utara tergabung dalam Keluarga Pelajar Tapanuli Selatan (KPTS) yang diresmikan akhir tahun 1993. Jumlah anggotanya sekitar 38 orang, sedangkan keseluruhan Sumatra Utara ada sekitar 60 orang. HMMSU berdiri pada 28 Maret 1996 dengan Sultan pertamanya Rusydi. Tidak ada masalah saat itu, tidak ada kepentingan, dan dipersatukan di klub sepak bola Toba, wadah untuk silaturahmi. Bertambah banyaknya anggota, kita merasa sedih, karena tidak saling mengenal. Saya tidak pernah melihat orang HMMSU berantem dengan orang KPTS, kalau berselisih itu biasa, tapi tetap satu, “ ungkap Pak Nashrun, yang tiba di Mesir pada 16 Oktober 1990.

Setelah penandatanganan Surat Keputusan Nomor: 201/MPA PPM Sumut/2019, maka PPM Sumut sepakat untuk melebur dan bergabung ke HMMSU. Selanjutnya seluruh aset dan inventaris yang dimiliki oleh PPM Sumut dialihmilikkan ke HMMSU dan seluruh simbol dan lambang yang dimiliki oleh PPM Sumut secara otomatis tidak berlaku di bawah payung PPMI Mesir. 

“Dengan ditandatanganinya surat keputusan ini yang disaksikan oleh BPA PPMI, Presiden PPMI, Sultan HMMSU dan ditanda tangani oleh kedua belah pihak, maka kita sudah melebur. Sumut bersatu, Sumut bermartabat,” teriak Siddik bersemangat.

Muhammad Al Farizi, mahasiswa jurusan Sejarah dan Peradaban di universitas Al-Azhar asal Sumatra Utara mengungkapkan kegembiraannya kepada kru Informatika saat diwawancarai, “Sungguh gembira, sungguh senang, saya sebagai mahasiswa baru di tahun 2017, sampai ke Mesir mahasiswa baru ditarik-tarik, ada kabar-kabar yang nggak-nggak, setidaknya itulah yang kami alami. Setelah adanya keputusan yang telah ditetapkan tadi, saya sebagai warga PPM Sumut dan mayoritas masyarakat PPM Sumut sepakat melebur ke HMMSU, sungguh-sungguh sangat bergembira, karena menghindari perselisihan. Maslahat adik-adik dan maslahat umum itu lebih besar.”      
Di sisi lain Maulana Anzali Ramadhan, mahasiswa baru kedatangan 2018 merasa terkejut mendengar berita penggabungan dua kekeluargaan ini. “Saya terkejut dengan penggabungan ini, karena melihat masa lalu sangat lumayan kental perbedaan itu karena masalah bahasa, etnis. HMMSU tuh orang Medan, PPM Sumut tuh orang Tapanuli Selatan, Labuhan Batu.”
“Untuk warga PPM Sumut, ketika sudah terjadinya penggabungan ini agar lebih menyatu dengan saudara kita yang sesama Sumatra Utara di HMMSU, kemudian untuk pihak saudara kita yang di HMMSU ini langkah awal saling memahami, menyatukan jiwa dan ketika sudah menyatu sama-sama, tidak ada lagi kau dan aku, tapi kita,” harap Lukmanul Hakim.
Acara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh Zamzami. Selanjutnya dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan makan malam. Perpindahan keanggotaan dilakukan dengan pengisian formulir di HMMSU.

Reporter: Zaenal Mustofa
Editor: Ahmad Faishal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here