Mengganyang Musuh dengan Senjata Terampuh

Mengganyang Musuh dengan Senjata Terampuh
Friday, August 30, 2019
Syekh Fauzi Konate sedang memaparkan materinya pada acara Grand Opening Dauroh Intensif Ilmu Alat di Aula Daha KMJ Hay Asyir. (Sumber: Dok. Informatika/Revi)

Jika kita ibaratkan bahwa kajian-kajian keislaman adalah musuh yang harus dikalahkan dan dikuasai, maka Nahwu, Shorf, Mantiq dan Balaghoh adalah senjata terampuh yang bisa kita gunakan untuk dapat melakukannya. Ilmu-ilmu tersebut memang menjadi pangkal utama untuk memahami segala macam kitab baik yang berbau turots maupun ashriyyah.

Beberapa  ilmu semacam Nahwu, Shorf, Mantiq dan Balaghoh ini biasa disebut ilmu alat karena menjadi alat bagi seseorang yang ingin membaca dan memahami segala macam kitab dengan baik dan benar. Hematnya, ilmu-Ilmu ini berperan sebagai kunci dari itu semua.

Peran penting yang dimiliki ilmu-ilmu alat ini menjadikannya sebagai kewajiban untuk dimiliki dan dikuasiai oleh para pelajar, santriwan dan santriwati dimanapun mereka berada. Tak terkecuali “Masisir” yang dalam kesehariannya selalu berkecimbung dengan segala hal yang berbau Bahasa Arab.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Mentri Koordinasi (Menko) 1 dibawah naungan Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir kabinet Improvement 2019/2020 mengadakan “Dauroh Intensif Ilmu  Alat level Mubtadi” yang dilaksanakan di aula Daha KMJ Mesir.  

Grand Opening kegiatan ini dilaksanakan  pada (27/8) yang mana diisi langsung oleh fadhilatus syaikh sayyidi  Fauzi al-Konate. Acara yang dimulai pada jam 15.30 sampai dengan 21.30 itu juga meliputi pembacaan muqoddimah kitab Tuhfatus Saniyyah. Kitab ini menjadi rujukan pertama dalam pelaksanaan dauroh kali ini.

Dauroh intensif ilmu-ilmu alat ini akan berlangsung selama delapan bulan, masing masing  fann ilmu akan mendapatkan porsi dua bulan untuk menyelesaikannya. 250 peserta yang terdiri dari banin dan banat ini akan di pecah menjadi 15 kelompok dan masing masing dari kelompok tersebut memilki satu pengampu atau pembimbing yang akan mengajar mereka,” ujar Zainuddin Ruslan selaku Menko 1 PPMI Mesir sekaligus penyelenggara dauroh ini.

Adapun keempat ilmu alat yang akan dikaji adalah:
1.    Nahwu dengan Kitab Tuhfatus Saniyyah
2.    Shorf dengan Kitab Matan Bina
3.    Mantiq dengan Kitab Syarh Sullam
4.    Balaghoh dengan Kitab Durusul Balaghoh

“Untuk waktu daurohnya, akan disesuaikan dengan waktu yang cocok untuk mereka,” sambung Zainuddin yang kini telah menginjak tingkat 4 jurusan Hadis itu.

Untuk menanggulangi adanya ketidakhadiran dari para peserta dauroh, absen pun dilakukan untuk para peserta. Juga sudah menjadi target bahwa kitab-kitab yang diampu harus selesai paling lambat dua bulan dalam 16 kali pertemuan.

“Melalui dauroh ini juga, kami berharap ada pembimbingan yang baik dari kakak kelas kepada adik- adik kelasnya, bukan hanya mengajarkan namun juga memberikan motivasi-motivasi. Kami juga berharap dauroh ini bisa menjembatani para pesertanya dalam mengikuti talaqqi-talaqqi dan kuliah, sehingga dapat meminimalisir kawan-kawan yang  kurang memiliki pemahaman yang baik ketika mengikuti talaqqi dan kuliah, “ jelas Zainuddin kepada salah satu kru Informatika.

Latar Belakang Dauroh
Masisir  sendiri tidak lepas dari kesehariannya memahami teks-teks berbahasa Arab, terutama kitab- kitab turats yang merupakan warisan umat Islam dari para pendahulunya. Namun, sangat disayangkan, banyak pelajar yang menempuh studi di Mesir ini, yang mayoritasnya adalah mahasiswa/I  universitas al-Azhar asy-Syarif ini, mengalami kesulitan dalam memahami dan mengaplikasikan Bahasa Arabnya, baik itu memahami buku diklat perkuliahan, maupun pemaparan materi yang disampaikan oleh dosen dan masyayikh. Mereka bahkan mengalami kesusahan dalam berbicara apalagi dalam menulis Bahasa Arab dengan baik.

Oleh karna itu, PPMI Mesir sebagai organisasi induk para Masisir, dengan peran strategisnya dituntut untuk mengakomodir permasalahan serius ini dan menggandeng pihak-pihak yang bisa diajak bekerjasama dalam meningkatkan Bahasa Arab para pelajar di Mesir ini.

“Bagi saya, sangat penting dauroh ini diadakan. Terlebih bagi mubtadi yang akan memulai atau sedang menuntut ilmu agama yang pada dasarnya semua ilmu agama itu membutuhkan ilmu alat (untuk memahaminya). Jadi, yang diagendakan di dauroh ini adalah ilmu-ilmu alat saja,” ujar Muhammad Gia Nabila yang kini telah menginjak tingkat dua di fakultas Ushuluddin al-Azhar.

“Syaikh Fauzi Konate juga banyak memotivasi dan mengatakan betapa pentingnya ilmu Nahwu, Shorf, Balaghoh dan Mantiq. Saya juga berharap bisa lebih semangat dalam menuntut ilmu (dengan adanya dauroh ini) di Mesir ini. Karena dengan adanya komunitas belajar untuk para penuntut ilmu, itu sangatlah penting. Dengan adanya komunitas belajar seperti ini, potensi kita bisa berkembang dan bahkan bisa menambahkan thumuh para pelajar,” sambung peserta dauroh intensif ilmu-ilmu alat ini.

 Kitab yang dipilih untuk dauroh intensif ilmu-ilmu alat ini pun terbilang penting dan tepat untuk para peserta. Seperti yang dikatakan Camelia Tania Devi, salah satu peserta perempuan yang mengikuti dauroh intensif ilmu-ilmu alat ini.

“Menurut saya, dauroh ini terbilang penting ya, karena sebagai bekal bagi Masisir untuk memahami kitab-kitab yang menjadi rujukan di fakultasnya masing-masing ketika duduk di bangku kuliah. Kitab Tuhfatus Saniyyah juga cukup mudah di pahami penjelasannya untuk para pemula seperti saya pribadi,” ungkapnya.
   


Reporter: Revi Sutrisna
Editor: Muh. Nur Taufiq al-Hakim
Open Comment
Close Comment

0 Response to "Mengganyang Musuh dengan Senjata Terampuh "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel