Di Konfercab NU Mesir 2018, Ketua PCINU Singgung Politik Kebangsaan - Informatika Mesir

Breaking

Jumat, 16 November 2018

Di Konfercab NU Mesir 2018, Ketua PCINU Singgung Politik Kebangsaan

Dewan Syuriyah PCINU Mesir tampak hadir di Konfercab PCINU Mesir pada Kamis (15/11) di Aula Griya Jawa Tengah, Distrik 10, Madinah Naser, Kairo. [M. Fajar/Informatika]

Kairo, Informatikamesir.com -- Kamis, (15/11) Warga nahdliyin Mesir yang berafiliasi dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir menyelenggarakan Konferensi Pengurus Cabang (Konfercab) yang bertempat di Aula Griya Jawa Tengah, Distrik 10, Madinah Naser, Kairo. Dalam acara itu, Ketua Tanfidziyah PCINU 2016-2018  Ilman M. Abdul Haq menyinggung sikap politik Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia menyatakan bahwa sikap politik NU berdasarkan Khittah 1926 dan Munas Situbondo 1984 adalah politik kebangsaan. 

“Berdasarkan Khittah, NU tidak berpolitik praktis tapi NU memiliki sikap politik yaitu politik kebangsaan,” kata Ilman, Ketua Tanfidziyah PCNU Mesir yang terpilih pada Konfercab 2016 silam.

Menurut Ilman, yang dimaksud dengan politik kebangsaan yaitu sikap para ulama NU yang lebih mengedepankan kesantunan dan menjaga persatuan, meneguhkan NKRI tanpa jeda, menjaga stabilitas negara juga sekaligus mengkampanyekan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, NU tidak berpolitik praktis yang berorientasi pada politik kekuasaan. Meski demikian NU juga tetap menjunjung hak-hak bangsa Indonesia dalam berpolitik termasuk porsi-porsi politik warga NU secara individu. Sedangkan NU sendiri sebagai organisasi steril dari politik kekuasaan itu.

Sejarah mencatat, NU pernah terlibat dalam percaturan politik Indonesia dengan menjadi partai politik pada 1952. Dan tiga tahun selepas itu, pada 1955 NU sebagai partai politik untuk pertama kalinya mengikuti pemilu di Republik Indonesia. Namun, dengan sikapnya ini peran luhur NU yang seharusnya lebih fokus pada pengabdian kepada masyarakat mengalami kemunduran dan seolah-olah terlupakan. Berangkat dari sinilah, meski diwarnai perbedaan pendapat, para kiai mengusulkan bahwa NU harus kembali kepada Khittah 1926 yang pada puncaknya di Mukatamar NU ke 27 Situbondo pada tahun 1984 disepakati bahwa NU kembali ke khittah dengan tidak menjadi partai politik alias tidak berpolitk praktis. 

Selama masa kepemimpinannya, PCINU sebagai organiasasi Aswaja terdepan memfokuskan pada kegiatan-kegiatan peningkatan intelektualitas warga nahdliyah dan warga Indonesia di Mesir pada umumnya. Yaitu dengan menguatkan kembali wacana-wacana keilmuan Islam dalam bentuk diskusi dan kajian seperti pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU), Lembaga Bahtsul Masail (LBM), Said Aqil Siradj (SAS) Center dan lembaga-lembaga otonom lain di bawah afiliasi PCINU Mesir. 

Dalam hal ini, alumni Pesantren Tebuireng ini mengaku bahwa NU lah yang lebih terdepan membumikan risalah Al-Azhar. Baginya, Al-Azhar Al-Syarif dan Nahdlatul Ulama itu bagai kaka-adik yang sama-sama lahir dari rahim Islam. Dari sisi Aqidah, keduanya sama-sama berfaham Sunni Aswaja yaitu menganut paham Asyairah dan Maturidiah. Berfikih dengan 4 madzhab meski secara resmi menganut madzhab Syafi’iyyah. Dan juga berkahlak tasawuf. Bedanya, NU sebagai adik terlebih dahulu berasimilasi dengan budaya bangsa Indonesia yang pada mulanya penganut Hindu-Budha. Oleh sebabnya, tidak heran saat NU menjadi organisasi terdepan dalam membela kebangsaan. 

Selain itu, program ini juga berfungsi sebagai wadah regenerasi kader-kader intelektual muda kaum nahdliyin. Tidak hanya itu, PCINU di bawah kepimpinannya juga fokus pada penguatan ekonomi dengan mendukung penuh badan-badan usaha yang terafiliasi denganya seperti Waroeng 22 dan Cargo NU. 

“Di masa kepemimpinan kami, program fokus utama kami yaitu intelektual, kader dan ekonomi,” sebut Ilman. 

NU Mesir pada masa kepemimpinan Ilman ini juga banyak yang harus dievaluasi. Hal utama menurutnya adalah pengkaderan. Pada kurun 2014-2016 banyak kader-kader yang pulang mengabdi di tanah air sehingga di periode kepemimpinannya ia merasa kekurangan kader yang kompeten dan kapabel dalam mengemban tugas. Untuk itu ia berharap semoga evaluasi ini bisa diperhatikan oleh pengurus PCINU berikutnya. 

“Evaluasi di masa kepemimpian adalah kader. Saya merasa SDM kami belum optimal,” katanya.
Sertijab dari Ilman M. Abdul Haq  (kanan) selaku ketua tanfidziyah lama kepada ketua baru M.  Nora Burhanudin, Lc. , Dipl. (kiri). 


Konferensi Pengurus Cabang (Konfercab) ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali dengan agenda utama sebagai acara laporan pertanggungjawaban dan pemilihan ketua tanfidziyah baru PCINU Mesir. Setelah melalui pemilihan, M. Nora Burhanudin, Lc., Dipl, terpilih sebagai orang nomor satu di PCINU Mesir. Alumni pesantren Pesantren Ilmu Qur’an (PIQ) Singosari, Malang ini adalah mahasiswa pascasarjana universitas Al-Azhar pada jurusan Ushul Fikih. Pada Kenfercab Fatayat PCINU Mesir seminggu sebelumnya, Habibah Masrurah, mahasiswi S1 universitas Al-Azhar jurusan Aqidah Filsafat terpilih menjadi ketua. 

Reporter: Abdul Fatah Amrullah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar