“Mahasiswa Timur Tengah Tidak Mengerti Metodologi”, TGB: Metodologi Al-Azhar Autentik - Informatika Mesir

Breaking

Minggu, 21 Januari 2018

“Mahasiswa Timur Tengah Tidak Mengerti Metodologi”, TGB: Metodologi Al-Azhar Autentik

Dr. TGB. M. Zainul Majdi saat menyapa mahasiswa Indonesia pada acara Konferensi Internasional Al-Azhar. Konferensi ini berlangsung pada 17-18 Januari 2018. (Dok. FP TGB)

Kairo, Informatikamesir.com -- Dalam kesempatan silaturahmi bersama mahasiswa Indonesia di Mesir, TGB, sapaan yang kerap dinisbatkan kepada Dr. M. Zainul Majdi itu menyoroti geliat intelektualitas yang banyak diperbincangkan di kalangan intelektual di Indonesia. Tuan Guru Bajang (TGB) di tengah-tengah ceramahnya menyinggung kritik yang dilontarkan sarjana muslim Barat kepada metodologi belajar di Al-Azhar. 

“Apa itu belajar di Timur Tengah, tidak mengerti metodologi. Mereka yang belajar di Timur Tengah itu tidak mengerti apa-apa. Hanya mengerti metode menghafal saja. Tidak bisa menganalisis apalagi mencari solusi,” ucapnya Jumat (19/01) di Aula KM-NTB, Abbas Aqqad, Kairo. 

Menurut TBG, sarjana-sarjana Indonesia lulusan Timur Tengah, termasuk Al-Azhar juga mempunyai integritas dan komitmen yang tinggi ketika mereka diberikan tugas dan disediakan lahan untuk berkontribusi. 

“Waktu dan sejarah membuktikan ucapan itu tidak benar. Ketika seorang Azhari, lulusan Al-Azhar, diberikan ruang untuk berkiprah dalam ranah kekhidmatan, di manapun, insya Allah dia bisa tunaikan itu dengan baik,” ucapnya menjawab kritik tersebut. 

“Ada seorang Azhari diberikan amanah menjadi gubernur, bisa tunaikan. Alhamdulillah. Tidak kalah sama gubernur yang lulus dari mana itu? Jadi jangan termakan oleh propaganda seperti itu,” lanjut Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Indonesia ini. 

Di hadapan mahasiswa dari berbagai strata itu, Gubernur Terbaik tahun 2017 versi Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia juga mengkritik balik metodologi Barat yang selama ini diagung-agungkan. Menurutnya, kajian keislaman itu tidak mudah untuk digeneralisasikan dengan konsep tunggal versi Barat sendiri. Apalagi dimotivasi oleh kepentingan politis--studi kajian-kajian tentang Islam dilakukan untuk melanggengkan dominasi Barat dengan menciptakan citra yang tidak benar dan distorsif tentang Islam. 

“Tidak benar bahwa Al-Azhar tidak mengajarkan kita metodologi. Metodologi apa lagi yang lebih verified, yang lebih autentik dari metodologi Al-Azhar. Al-Azhar mengajarkan proses verifikasi berjenjang. Autentifikasi bukan hanya satu sumber. Beragam sumber; untuk menetapkan suatu peristiwa, untuk menjelaskan suatu kejadian, untuk menerangkan urutan peristiwa,” imbuhnya. 

Ketua PBNW (Pengurus Besar Nahdlatul Wathan) ini juga merasa bangga telah belajar di Al-Azhar. Sebuah institusi keilmuan yang telah diakui oleh dunia Internasional baik muslim maupun non muslim. Bahkan menurutnya Al-Azhar sudah memiliki posisi istimewa di Indonesia.

“Ketika ada alumni Al-Azhar diberi ruang untuk berkiprah, Dr. M. Muchlis Hanafi ini tidak ada penerjemah terbaik seperti beliau. Kalau sudah ada Dr. Muchlis, lewat semua. Penerjemah tersumpah dan tidak tersumpah. Dia tidak perlu disumpah. Dengan Ashalah Al-Azhar, otentitas keilmuan yang ada,” katanya di hadapan Dr. M. Muchlis Hanafi, Ketua Lajnah Pentashih Alquran Kementerian Agama RI. 

Namun, meski Al-Azhar memiliki kedudukan yang tinggi, mahasiswa Indonesia di Al-Azhar tidak cukup dengan berpangku tangan. Mahasiswa harus memiliki interdisipliner yang tinggi supaya bisa mengimbangi keilmuan yang banyak berserakan di Al-Azhar. 

“Anda ini sekarang berada di depan sumbur yang airnya itu jernih. Banyak sekali tidak habis-habis. Kualitasnya terbaik. Timba dia! Jangan anda cukup dengan setetes, dua tetes, atau menetes dari timabanya orang. Anda menimba sendiri dan ambil sebanyak-banyaknya. Belajar. Tahsilul ‘ulum (menimba ilmu), di sini tempatnya,” tuturnya.  

Rep. Abdul Fatah Amrullah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar