Masisir Kaji Sejarah dan Peradaban Islam bersama Indra Gunawan - Informatika Mesir

Breaking

Senin, 20 November 2017

Masisir Kaji Sejarah dan Peradaban Islam bersama Indra Gunawan

Red: Suasana seminar Sejarah dan Peradaban Islam

Kairo, Informatikamesir.com -- “Belajar karena benci itu ada juga efeknya, tidak hanya belajar karena cinta. Tidak heran ketika mengalami Rasib bukan menjadi hal yang tabu lagi, karena rasibnya ramai-ramai.” Ujar Indra Gunawan, ketika bernostalgia menjadi bagian dari Masisir, sudut-sudut ruangan pun menjadi menggelegar dengan suara tawa.

HMM-SU bekerja sama dengan ICMI Orsat Kairo mengadakan seminar “Sejarah dan Peradaban Islam ‘Kaji Sejarah Jaya Masa Depan!’” pada Sabtu 18/11 2017 di Auditorium Wisma Nusantara, Rab’ah el-Adaweyah, Kairo berlangsung selama tiga hari 18, 20 dan 22 November. Meskipun demikian, di kala membludaknya acara-acara Masisir, dan semakin semakin dekatnya ujian termin pertama, para peserta terlihat tidak khawatir. Pasalnya, mereka merasakan sentuhan menyelami lautan sejarah, yang dibumbuhi oleh rasa penasaran, sekalipun mahasiswa lainya yang mau mendaftar kehabisan stok, dikarenakan banyaknya peserta seminar.

Sebelum acara dimulai pantun-pantun diperdengarkan kepada para peserta oleh pembawa acara dengan logat khasnya. Selanjutnya beberapa sambutan bergantian mengawali acara, “Sejarah itu menyadarkan kita, apalagi sejarah Islam.” Tutur Fahmi Bahrul Ulum, selaku ketua HMM-SU memberikan sambutan pertama, serontak suara tepuk tangan menjadi ramai, para peserta  semakin antusias  mendalami sejarah dan peradaban Islam siang itu. Sambutan dilanjutkan  oleh Ahmad Budiman. Lc. Sebagai ketua ICMI Orsat Kairo, yang berkesempatan dalam menyampaikan sambutan kedua. Ia membacakan sebuah Hadis, “Man salaka tharîqan yaltamisu fîhi ‘ilman sahhala Allahu lahu bihi tharîqan ila al-Jannah.” Dan meminjam perkataan ulama salaf, “Kami mengajarkan As-Sîrah An-Nabawiyyah sebagaimana kami mengajarkan Alquran. Dari sana meyadarkan kita bahwa sejarah sangatlah penting, maka itulah diadakannya seminar ini, terangnya. Kemudian, Idris Wahyudi sebagai ketua Festival Danau Toba HMM-SU, berkata, “acara ini dilaksanakan sebagai rentetan kegiatan pra-ultah HMM-SU yang ke-21, sebagai ajang forum silaturahim.”

Indra Gunawan mengawali pembicaran dengan menuturkan sejarah ruangan auditorium Wisma Nusantara. Menurutnya, auditorium ini merupakan ruangan sepuh, yang telah lama dibangun dan digunakan untuk berbagai acara. ia menerangkan sejarah gedung Wisma Nusantara sebagai pusat kegiatan Masisir dari zaman ke zaman. Kemudian beliau menceritakan, saat dirinya mau mengambil jurusan, tutur salah satu temannya Mushtafa Zakir “Jangan masuk jurusan ini.” Orang-orang yang biasanya mengambil Fakultas Ushuludin, Syariah dan bahasa Arab, tetapi saya termasuk salah seorang yang salah mengambil jurusan, yaitu mengambil Târikh wa al-Hadhârah.

Mengomentari peminat seminar yang besar, beliau menyatakan bahwa hal ini sangat kontras karena tidak selaras dengan peminat Fakultas Bahasa Arab, Prodi Sejarah dan Peradaban yang tidak seberapa, “Peminat sejarah itu seperti fatamorgana, tidak banyak peminatnya, tetapi peminat yang mengikuti seminar ini sangat banyak.” Suasana pun kembali dipenuhi tawa canda. Indra Gunawan, menerangkan kajian sejarah perlu dipelajari dikarenakan; Sepertiga Al Quran berisii sejarah dan ini memahaminya merupakan cara paling ampuh untuk memegang kendali peradaban. Kemudian, ibarat membuat kue brownies kita mencari bahan terbaik dan membuatnya dengan kualitas yang tinggi, begitu juga dengan sejarah.

Selanjutnya, beliau  memetakan peta dunia, yang berada di layar proyektor dan menyebutkan nama-nama negara serta perkembangan peradabannya, semisal Tanah Syam (Suriah, Palestina, Libanon dll), Shin (Cina, Hongkong, Makau, Jepang Korea dan Taiwan), dan Maghrib (Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania dan Sahara Barat). Juga dari laut dan sungai, sungai Nil, Eufrat dan Gangga. 70% seluruh benua dan samudera adalah air, karena air merupakan sumber kehidupan. Pada sesi ini, beliau memberikan pertanyaan menarik, kenapa di Indonesia Irian Jaya dipanggil dengan panggilan itu sebelum diganti Papua? Para peserta kebingungan, tidak satu dua bertanya kepada temannya, tetapi hasilnya nihil. Lalu beliau menjawab hal itu, bahwasanya ketika Islam masuk ke Nusantara yang hendak menyebarkan ajarannya, terhalang oleh orang-orang di sana dan gujarat Arab melihat orang-orang itu tidak berpakaian dengan membawa tompak, sebab di dalam bahasa Arab orang yang telanjang itu ‘âriyan’ itulah dinamai dengan Irian jaya, ya meskipun terlepas benar atau tidaknya.

Tidak berkutat pada penyebutan nama negara dan peradabannya saja, kini beliau menyinggung kebenaran mukjizat Alquran yang diturunkan di negeri Arab. Sebab bangsa-bangsa lain telah banyak mengalami perbenturan dan campur tangan dari bangsa lain, sedangkan negeri Arab masih murni dan di sanalah lahirnya Nabi terakhir Muhammad Saw. Sekiranya Allah mengutus Nabi Muhammad di Eropa apa yang tidak mungkin bagi Allah, ini mudah saja. Namun, Allah lebih berkehendak atas semua dan itulah Dia memilih di negeri Arab.

Waktu berlalu sangat cepat seperti cepatnya manusia melupakan sejarahnya, kini acara dilanjutkan dengan hati yang tenang dan pikiran bugar kembali, setelah banyaknya ilmu yang didapat dari presentasi Indra Gunawan. Lc. Acara dilanjutkan dengan pengenalan ICMI Orsat Kairo, yang disampaikan oleh Ahmad Budiman. Lc. Selaku ketua. Disusul beberapa lembaga yang bernaung dengan ICMI, yaitu lembaga informasi oleh Fatah Amrullah sebagai pimpinan umum Informatika. Kemudian lembaga seni kaligrafi AFANIN, yang diwakili oleh Athar Afif, lembaga kaji Mawaris dan Nahwu Sharf, MAWAR (Mathali’u al-Anwar) dan PAKEIS (Paket Kajian Ekonomi Islam).

Adapun poin-poin yang disebutkan beliau pada presentasi selanjutnya, antara lain; Khulafaur Rasyidin, Fitnah dalam Pembunuhan Utsman dan Kekhalifaan Ali bin Abi Thalib.  Di akhir acara, beliau menjawab  pertanyaan-pertanyaan peserta lagi sebagai penutup seminar hari pertama. Yaitu pertama, Islam tidak hanya disebarkan melalui pedang saja, sekiranya benar ada, maka otomatis tidak ada yang tersisa dari umat Islam. Dibuktikan melalui koin dan mata uang serta bahasa Arab sebagai bahasa resmi. Kedua, Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh fiksi dalam Islam sebagaimana simpangsiur sebagian orang yang menganggap bahwa ia hanyalah tokoh fiksi dan Abdullah bin Saba’ kebenaran yang nyata, sebagaimana banyak riwayat yang menjelaskannya.

Reporter : Umar Sahri
Redaktur : Albi Tisnadi Ramadhan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar