Tea Time PPMI, Maba Dapat Keluar dari Asrama Asal dengan Prosedur - Informatika Mesir

Breaking

Sabtu, 14 Oktober 2017

Tea Time PPMI, Maba Dapat Keluar dari Asrama Asal dengan Prosedur


Mukhlason Jalaludin, MA sedang berbicara di acara Tea Tim. 


Informatika Mesir, Kairo- Kamis (12/10) DPP PPMI Mesir kembali mengadakan forum dialog antar Masisir ‘Tea Time’ untuk ke sekian kalinya. Pada dialog yang diselenggarakan di Aula KSW ini DPP PPMI mengangkat permasalahan asrama yang sampai sekarang masih menjadi polemik yang tak berkesudahan.

Dialog kali ini menghasilkan dua poin utama yaitu, Pertama: Maba (Mahasiswa Baru) dapat keluar dari asrama asal melalui prosedur yang telah ditetapkan, yaitu menyatakan keinginan keluar dari asrama dan melaporkannya pada ketua kekeluargaan masing-masing. Kedua: Konsekuensi bagi mahasiswa yang memilih tinggal di asrama adalah terlengkapinya fasilitas penunjang asrama.

Dalam dialog ini turut hadir Cecep Taufiqurrahman dan Mukhlason Jalaludin yang mewakili Atdik Usman Shihab, yang berhalangan hadir karena menghadiri pameran budaya di Zamalik. Sebelumnya, para hadirin nampak kecewa karena Atdik tidak dapat hadir pada acara ini dan para wakil yang hadir dinilai tidak dapat menampung aspirasi dari Masisir. Turut hadir pula dalam acara ini ketua-ketua kekeluargaan, senior Masisir dan beberapa mahasiswa baru.

Dalam sambutannya, Pangeran Arsyad mengutarakan bahwa PPMI Mesir secara prinsip merasa bersyukur atas pengadaan asrama, namun yang menjadi perhatian adalah pengelolaan dan sistem yang diterapkan di dalam asrama. “Bagai nasi goreng, kita semua suka nasi goreng. Tapi bagaimana nasi goreng itu dibuat merupakan hal lain. Apakah nasi goreng itu gosong, asin dlsb. Begitu juga asrama," tutur Pangeran.

Dalam menyikapi problematika asrama, KBRI sendiri bersikap pro aktif dan terbuka dalam menerima masukan, karena menurut Cecep, permasalahan yang dialami oleh Maba adalah permasalahan KBRI juga. Dia mengajak setiap kalangan untuk ikut turun tangan mengatasi permasalahan yang ada. “Kami sangat senang dengan adanya acara ini,  sama-sama kita potret permasalahan yang ada dan secara bertahap kita akan ajukan kepada Al Azhar untuk ditanggulangi,"  tegas Cecep.

Dialog berlangsung cukup alot, para senior Masisir yang  merekam jejak terbentuknya asrama menyayangkan akan sikap KBRI yang mewajibkan asrama bagi anak baru. “Kami sangat menyayangkan sistem wajib asrama, terlebih kami juga mempertanyakan kepada pihak KBRI mengapa kami tidak diajak berdialog perihal wajib asrama ini," kata Zulkifli, salah satu senior Masisir.

Cecep menjelaskan bahwa KBRI tidak memiliki andil sama sekali tentang wajib asrama, dia menjelaskan bahwa tiga kementrian di Indonesia yang menetapkan wajib asrama ini. Bahkan menurutnya KBRI telah melakukan berbagai usaha yang dinilai baik untuk kepentingan Maba, diantaranya mengajukan anggaran keringanan dari pemerintah dan memberikan keringanan membayar setengah dari keseluruhan iuran dan menangguhkan sisanya di lain waktu bagi yang kurang mampu.

Beberapa Maba yang juga menyempatkan hadir juga menyatakan beberapa kekurangan yang mereka alami selama tinggal di asrama. M Hafiz, menuturkan bahwa sarapan dan makan siang sering kali terlambat tersedia. “Ya, kita DL (Dauroh Lughoh) pagi jam 7, sementara nasi datang jam 8. Makan siang juga, yang DL siang akan berangkat jam 12 sementara nasi baru datang paling cepat jam 1 siang," terang Mahasiswa asal Jawa Timur ini.
Masisir dari berbagai kalangan saat menghadiri Tea Time.

Maba lainnya juga mengutarakan beberapa permasalahan diantaranya : Pengelolaan asrama yang masih kurang dari standar, hal ini menyebabkan banyak mahasiswa yang hanya menganggur di kamar tanpa kegiatan. “Yang ada di tingkat mutawashit tsani dan mutaqadim awal kan mereka tidak bisa DL, nah mereka nganggur tidak ngapa-ngapain, karena mereka belum faham kegiatan keilmuan di Mesir," tutur salah satu Maba.

Tentunya setelah acara ini PPMI dan Masisir mendesak KBRI agar melaksanakan kewajibannya untuk mengayomi warga Indonesia terkhusus penghuni asrama. Masisir juga mendesak agar keluhan-keluhan ini dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak lama. “Yang kita butuhkan adalah kapan deadline dari aspirasi-aspirasi Masisir ini bisa dilaksanakan, untuk selanjutnya jika tidak mungkin dilaksanakan dapat dilakukan solusi-solusi lainnya untuk Masisir, jelas Rifqy Romdhoni, perwakilan PWK Nahdhotul Wathon.

Diakhir sesi, Cecep menjelaskan bahwa semua lini harus berusaha maksimal sesuai porsinya masing-masing. Ia menilai bahwa tidak ada halangan bagi PPMI untuk bertemu pihak manapun demi kemaslahatan Masisir.

Reporter : Albi Tisnadi
Redaktur : Abdul Fatah Amrullah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar