Sukses dan Apik ISIC-SI UK 2017 : Memotret Fenomena Demografi Indonesia 2030 - Informatika Mesir

Breaking

Senin, 31 Juli 2017

Sukses dan Apik ISIC-SI UK 2017 : Memotret Fenomena Demografi Indonesia 2030


Informatika Mesir, Kairo 01/07. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia selama 4 hari, pada 24-27 Juli 2017 telah sukses dan apik menyelenggarakan Simposium Internasional (SI) di University Of Warwick, United Kingdom. Acara ini dirangkai dengan hajat tahunan PPI UK yaitu Indonesian Scholars International Convention (ISIC). Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara PPI Dunia, Kedubes RI London dan PPI UK serta diikuti oleh delegasi 28 PPI Negara yang hadir. Agenda besar tahunan PPI Dunia ini digagas untuk membahas keorganisasian, berbagai ide dan merumuskan solusi berupa gagasan dan  aksi nyata  dari para pelajar Indonesia dari seluruh penjuru dunia.
Red : Salah satu sidang yang dilakukan dalam Simposium UK

Pada SI 2017 bertepatan dengan tahun ke-9 sejak pertama kali SI ini digalakan di Den Haag, pada Juli 2019 silam, SI kali ini mengangkat tema “Indonesia’s Demographic Boost In 2030”. Samuel  Leonardo Putra, ketua panitia SI UK 2017 mengatakan bahwa inspirasi diangkatnya tema ini merupakan hasil tinjauan terhadap fenomena demografi bangsa Indonesia. Ia melihat bahwa fakta hari ini, negara Indonesia memiliki populasi produktif (usia 15-64 tahun) jumlahnya mengalahkan populasi yang tidak produktif.  Menurutnya, keadaan ini jika direspon dengan bijak akan menghantarkan Indonesia pada tahun 2030 menjadi negara yang maju, bangsa yang sejahtera.
 
Samuel, yang juga kandidat Phd University Of Oxford mengabarkan ihwal berbagai persiapan SI 2017 secara gamblang kepada kru Informatika ORSAT ICMI Kairo, seperti pada SI 2016 di Kairo, pada 2017 kali ini persiapan juga sejak 6 bulan lalu, tepatnya bulan Januari 2017. Ia mengatakan bahwa pada awalnya panitia inti SI berjumlah 13 orang. Dibagi menjadi ketua dan wakil ketua PPI UK, ketua dan wakil ketua SI, dan 9 orang kepala divisi yang dibagi berdasarkan tugas-tugasnya. Menjelang hari pelaksanaan, masing-masing divisi menambahkan anggota hingga jumlah keseluruhan panitia berjumlah 70 orang.

Masih menurut Samuel, pada permulaannya para panitia mengadakan brain storming atau lebih tepatnya mengkonsep SI 2017 ini seapik mungkin. Kemudian disimpulkan dari perbincangan awal ini, PPI UK akan mengadakan acara besar. Dari perkumpulan kecil ini juga disepakati untuk mengadakan inovasi baru dalam mendisain format acara. Jika sebelumnya acara SI berisikan keeynote speaker dan panel discussion saja, pada tahun ini dibuatkan diskusi-diskusi yang sifatnya break up session, yaitu diskusi-diskusi terbagi menjadi panel-panel yang lebih kecil dengan topik-topik yang berbeda. Setelah memformulasikan acara, kemudian mempola perencanaan budget, sponsorship, promosi acara dan para pembicara SI.

Adapun progres SI tahun 2017 ini, imbuh mahasiswa Master of Enggineering Oxford ini, jika sebelumnya jumlah pembicara SI tidak lebih dari 10 orang, berisikan keeynote speech lalu ada mungkin setelahnya langsung selesai, pada SI tahun ini, saat siang harinya diagendakan acara beak up session di 7 sesi  dengan topik-topik yang berbeda. Ada interpreneurship, development, literature and publishing, fashion, government and politic, education dan financial servises. Sedangkan total pembicara yang hadir berjumlah 25 orang, yang dibagi kedalam setiap sesinya menjadi 3 orang pembicara.

Hadir dalam acara ini, Ricard Graham MP, Dr. TGH. KH. M. Zainul Majdi, MA  Sudirman Said, Tri Rismaharani, Prof. Dr. Ta Fauzi Soelaiman, Dr. David Johnson,  Andrea Hirata, Diediet Maulana, Dian Pelangi, Ria Miranda, Elidawati, Handry Satriago, Budiman Sujatmiko, Tulus, Eka Simanjuntak, Najeela Shihab, Georgee Saa, Hirmansyah S. Thaib, Prof. Muhammed Abdel-Haq, Kusumo Martanto, Endy Dwi Tjahjono, Destry Damayanti, Adam Tyson, Arif Zulkifli, Yanuar Nugroho, dan Nancy Margied.

Masih menurut Samuel Leonardo Putra, ia bersyukur rangkaian acara SI UK 2017 sukses sesuai perencanaan. Hal ini menurutnya tidak lepas dari feed back pembicara-pembicara, peserta dan juga delegasi yang sudah hadir. Kesuksesan ini tentu dikarenakan berbagai faktor,  faktor utamanya adalah tim kepanitiaan yang solid dan penuh komitmen. Juga dukungan penuh Kedubes RI London melalui Dr. Rizal Sukma dan Atdikbud Prof. Aminudin. Juga dukungan penuh dari pihak Warwick University, dimana pihak universitas mensuport penuh seluruh acara, mulai dari vanue sampai penginapan para delegasi dan pembicara. Dan tentu juga dari para sponsor yang sangat kooperatif dan kontributif.

Point penting Simposium Internasional (SI) UK 2017 yaitu bagaimana menyikapi fenomena bonus demoghrafi Indonesia dengan serius. Bagaimana penduduk usia priduktif bisa dikontribusikan membangun negeri. Langkah yang perlu pemerintah  Indonesia emban yaitu membangun perekonomian, infrastruktur dan at the same time pemerintah juga perlu menyikapi dengan bijak permasalahan ketersedian lapangan kerja atau pun ketersediaan kebutuhan pokok, seperti ketersediaan sandang, pangan, dan papan. Jika hal ini mendapat perhatian yang serius, pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara yang maju dan bangsa yang sejahtera.(AbdulFatah)
Red: Salah satu pertunjukan dalam SI UK


Tidak ada komentar:

Posting Komentar