Ledakan Jumlah Camaba, Ini kata Atdikbud KBRI Kairo - Informatika Mesir

Breaking

Selasa, 13 Juni 2017

Ledakan Jumlah Camaba, Ini kata Atdikbud KBRI Kairo

Doc. Dr. Usman Syihab, MA

      KAIRO (12/06) Masisir tengah diributkan dengan kabar yang menyatakan bahwa jumlah Camaba yang diterima di Mesir mencapai 1468 mahasiswa, belum lagi ditambah dengan peserta beasiswa yang akan tinggal di Buust sekitar 100 orang, peraturan bahwa mahasiswa Sudan, Maroko dan Libanon yang juga diperbolehkan mengikuti program non beasiswa Mesir sejumlah 289 mahasiswa, sehingga total perhitungan sementara jumlah Camaba yang akan datang mencapai 1800 orang. Jumlah yang fantastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkisar 600 sampai 800 Camaba.

     “Dari pihak atase sendiri pun belum tahu bahwa jumlah Camaba yang akan datang sebanyak ini. Dalam bayangan saya, hanya 1000 Camaba yang akan lulus tes dan datang ke Mesir. 100 orang Camaba beasiswa yang terdiri dari 50 orang bukan alumni pondok Gontor dan 50 orang alumni pondok Gontor, sisanya 900 adalah Camaba Non Beasiswa, dan biasanya  30 persennya adalah perempuan, jadi sekitar 300 orang Camaba putri, 600 orang Camaba putra. Nah,600 orang inilah yang akan kita arahkan untuk tinggal di asrama,” jelas Pak Usman Syihab ketika dikunjungi tim Informatika, Minggu (11/06) Pagi di kantor Atase Pendidikan, KBRI Kairo.

     Ia juga menegaskan, bahwa baik Al-Azhar, KBRI maupun kemenag RI, tidak pernah membatasi kuota kedatangan Camaba setiap tahunnya. Jumlah mereka yang datang, murni ditentukan hasil seleksi Timur Tengah yang diadakan Kemenag RI.

“ Jumlah Camaba bukan ditentukan Atase Pendidikan, Kemenag atau pihak al-Azhar al-Syarif sendiri namun murni hasil perjuangan peserta seleksi, sebagaimana yang diterangkan dalam Lampiran Pengumuman Hasil Seleksi Beasiswa dan Non Beasiswa tahun 2017. Tepatnya pada poin nomor dua, di sub bab Mesir, yang menyatakan bahwa jumlah 1468 orang adalah jumlah peserta lulus seleksi Non Beasiswa/Mandiri Universitas al-Azhar Mesir dengan jumlah nilai minimal 65. Ini berarti, persiapan peserta ujian tahun ini lebih matang, sehingga lebih banyak yang diterima dibanding tahun-tahun sebelumnya” ujarnya menjelaskan.

     “Malah mahasiswa senior kita di sini, meminta agar standar nilai kelulusan diturunkan menjadi 50, sehingga yang datang ke mesir bisa sebanyak-banyaknya, karena seharusnya mahasiswa senang melihat banyak temannya yang juga bisa menuntut ilmu di Al-Azhar. Untuk ” sahut Pak Cecep, staff Atase Pendidikan.

       Pak Usman juga menambahkan, bahwa penentuan jumlah Camaba adalah hasil kebijakan panitia yang ada di Indonesia, namun tidak terlepas dari nilai hasil seleksi yang harus diatas 65, karena menurutnya nilai 65 inilah bukti kemampuan bahasa Arab yang dimiliki Camaba. “Kebanyakan yang belum lulus seleksi, jika memaksakan kesini justru akan lama berada di Markaz Lughoh. Karena faktanya, jika tidak lulus, karena kebanyakan masih duduk di kelas mubtadi. Dan rata-rata yang berhasil lulus, kebanyakan sudah sampai level mutawasith, yakni kemampuan bahasanya berarti hanya perlu diasah. Jadi, menurut hitungan saya satu tahun saja cukup di Markaz Lughoh. Jadi normalnya mahasiswa untuk menyelesaikan S1nya hanya perlu 4-5 tahun saja di Mesir,”

        Jika 1468 orang yang diterima, berarti 1468 orang Indonesia yang dianggap mampu untuk meneruskan studinya di Mesir. Namun jumlah yang menimbulkan kesan ledakan ini tetap saja menuai banyak siulan masisir, mulai dari yang menampilkan sikap setujunya hingga yang tidak setuju. Sikap keberatan pun ditampakkan oleh beberapa Masisir yang mulai khawatir tentang makin sesaknya penghidupan di Kairo pada umumnya. Menurut Nuansa Garini, Ketua WIHDAH 2017/2018 yang dipandang akan menuai banyak kerepotan adalah perihal tempat tinggal, karena mayoritas Masisir berpusat hanya pada kawasan Darrasah dan Hay Asyir. Selain itu, kendala jumlah yang terlalu banyak juga dikeluhkan beberapa ketua Kekeluargaan dan aktivis organisasi, karena ini akan berdampak pada sulitnya mencari ruang yang mampu menampung seluruh jumlah Masisir secara kondusif dan efektif. Ketua KPMJB, Yuda Meilana juga menyebutkan bahwa jumlah Camaba kali ini cukup membuatnya terkejut, karena berlipat 3 kali dari jumlah di tahun sebelumnya saat ini menjadi KPP-MABA. Ia memandang bahwa dalam jumlah yang banyak akan ada beberapa kesulitan dalam kepengurusan anggota dalam suatu agenda, validitas data, dan penyamaan persepsi dalam organisasi dikarenakan sasaran yang begitu luas memberikan peluang bagi beberapa warga yang mungkin tidak terangkul. Pendapat ini jelas diamini oleh kekeluargaan dengan penduduk padat seperti KSW, KPMJB, GAMAJATIM, dan lain sebagainya, yang memiliki keluhan dan kendala yang tidak jauh berbeda.

         “Menurut saya, mahasiswa justru dituntut untuk dapat memandang lebih positif perihal  jumlah Camaba tahun ini, karena ini berarti pihak al-Azhar sudah mempriotaskan bahkan memberikan perhatian yang intens kepada para pelajar Indonesia. Ini menimbulkan kesan bahwa al-Azhar makin melebarkan jalannya untuk pelajar Indonesia yang ingin menuntut ilmu di Mesir, seharusnya kita lebih bersyukur dengan keputusan ini. Harapannya, dengan jumlah pelajar yang semakin banyak, akan semakin banyak pula duta-duta al-Azhar di Indonesia nantinya, ini berarti amanat, yang alangkah baiknya kita wujudkan bersama” tutur Nuansa, saat ditemui tim Informatika di kantor isti’lam Buust.

        “ Langkah yang akan kami lakukan untuk menyambut seluruh Camaba mungkin dengan memperkuat tim KPP-MABA, dan menambah jumlah anggotanya karena jumlah Camaba yang juga berkali lipat. In syaa Allah akan kita pantau betul KPP-MABA kali ini, karena tahun kemarin, saat jumlah Camaba masih 800, KPP-MABA yang jumlahnya 15 orang itu perlu membuat 3 gelombang. Tahun ini mungkin akan lebih dikuatkan,” tambah Pak Usman. Pak Usman Syihab juga menghimbau kepada seluruh organisasi yang sifatnya membantu kesejahteraan hidup mahasiswa, seperti PPMI, WIHDAH, dan Kekeluargaan untuk tetap bersemangat membantu adik-adiknya di Mesir agar dapat menimba ilmu dengan tenang.

        “Jika jumlah Camaba banyak, ini berarti banyak pula kesempatan warga kampung kita yang dapat menimba ilmu di Mesir, maka seharusnya kita bersama-sama membantu bagaimana agar saudara-saudara kita juga mendapatkan kenyamanan yang sama dalam menuntut ilmu,”


       Sikap optimis ini diamini oleh beberapa Masisir, “Berapapun nanti jumlah Camaba KSW yang berangkat ke Mesir, kami harus siap membantu mereka dalam memfasilitasi kebutuhan, membantu jika ada keperluan, membimbing mereka menjalani hidup di Mesir, juga menyiapkan pendidikan mental untuk Camaba, dan lain sebagainya selayaknya kami sebagai keluarga,” ujar Muhammad Mahfudh, Ketua KSW Tahun 2017/2018. [] Reporter Vivi Noviantika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar