Diskusi Untuk Masisir - Informatika Mesir

Breaking

Minggu, 26 Maret 2017

Diskusi Untuk Masisir

Dok.PPMI Mesir : Terlihat Elit Masisir Hangat Berdiskusi
 Kairo, Informatika- Symbal Kafe Abbas Akkad kala itu sedikit berbeda. Suasana tenang berganti hangat cenderung panas. Semua sibuk mencerna dan memahami pemaparan permasalahan dari pembicara. Lontaran pertanyaan dan gagasan saling beradu disana.
Malam itu Sabtu (18/3) banyak kalangan dari aktifis Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir) berkumpul dalam satu tempat di sebuah acara Forum Diskusi Kolaboratif. Berbagai elit Masisir turut hadir. Diantara yang hadir dalam acara ini; Dr Windratmo, sebagai perwakilan Duta Besar yang berhalangan hadir karena sakit, juga Usman Syihab, Atase Pendidikan RI untuk Indonesia, Hidayatullah, aktifis Ruwaq Azhar, Ihsan Zainudin sebagai penggagas program Indonesia Al Youm dan perwakilan-perwakilan dari kekeluargaan, almamater, afiliatif dan kajian yang berdiri dibawah naungan PPMI Mesir. Acara yang diinisiasi oleh PPMI ini bertemakan “Peran Alumni Timur Tengah Dalam Pembangunan Bangsa”.

Presiden PPMI Ahmad Baihaqi Maskum menuturkan tema yang dipilih memang sengaja tidak terlalu berat namun dapat dijangkau oleh segala kalangan. Karena menurut keterangannya, sebelumnya acara ini telah diundur sebanyak dua kali karena berbagai alasan, diantaranya adalah ketidaksiapan pembicara dikarenakan tema yang terlalu berat.”tema pertama yang ditentukan adalah  Diskursus Islam dalam Memandang Politik. Namun pada saat itu bertabrakan dengan ujian, judulnya juga terlalu besar, pembicara juga  menyatakan ketidaksiapannya. Kemudian tema diganti lagi menjadi Prespektif hukum islam dalam memandang kudeta. Segala kesiapan acara telah dilaksanakan, bahkan gedung pun telah di hagaz namun pemateri banyak yang  berhalangan.” Jelasnya.
Dok. PPMI Mesir: Terlihat Mukhlason Jalaludin sedang memberikan salah satu pandangannya

Walaupun tema yang dipilih dipandang lebih ringan dari dua tema sebelumnya, diskusi kali ini dapat berlangsung menarik. Karena lima jam yang dihabiskan  peserta terbukti dapat memberikan pandangan baru pada peserta. Salah satu narasumber Hidayatullah memberikan pandangannya, pada dasarnya ide menarik, antusiasme pembicara dan aundien baik. Namun Mahasiswa S2 fakultas Bahasa Arab ini menyayangkan kurangnya keragaman narasumber dalam masisir. Masisir ada yang kiri, kanan dan tengah, saya berharap itu semua ada.” Katanya.

Menanggapi hal ini Mahfudz sebagai ketua panitia menjelaskan bahwa untuk mewakili seluruh masisir sangat tidak mungkin. Karena semua masisir punya pendapat masing-masing. “Kurang mewakili? Saya rasa dari jumah yang hadir sudah mewakii, kalau mau banyak ya tidak akan bisa, karena kita dalam diskusi seperti ini lafzhul al ba’ad iradatul kull.(Sebagian yang mewakili semua).” Ahmad Baihaqy juga menguatkan bahwa tidak mungkin untuk mewakili ribuan pasang mata masisir, karena pembicara hanya segelintir orang.

Tidak sampai disitu, komposisi narasumber yang dihadirkan pun tampak timpang tindih terlihat dari total lima narasumber yang hadir dari kalangan KBRI, sementara lima narasumber lagi berasal dari berbagai lini masisir. Maka tak heran banyak pertanyaan datang dari benak peserta, mengingat tema yang diambil menyangkut kehidupan Masisir. Presiden PPMI menimpali bahwa peran narasumber hanya sebagai pembanding dalam diskusi sekaligus memberikan data-data yang tidak dapat dihasikan oleh Masisir. Dan dia berkelak bahwa bapak-bapak KBRI juga mantan aktifis organisasi maupun akademisi masisir. “kita dapat banyak pengalaman para senior, sebagai contoh kita bisa mengambil banyak pengalaman Pak Usman sebagai ATDIK, juga Pak Cecep yang mantan MPA sekaligus pencetus SGS (Student Government System)”. Jelas Abay.

Lain Abay lain lagi dengan Nuansa Garini, Masisirwati yang menjabat sebagai wihdah ini berbeda pendapat lagi menanggapi komposisi pembicara. Menurutnya apabila para pembicara dilihat dari segi ke-masisir-an mungkin mencukupi. Akan tetapi, melihat tema adalah Peran Mahasiswa Timur Tengah Untuk Pembangunan Bangsa, maka selayaknya pembicara yang dihadirkan telah memiliki banyak pengalaman di bidang pergerakan di Indonesia. “memang lahir dari rahim masisir, menurut aku sudah cukup baik untuk masisir. Namun mereka faktanya hanya pengamat”. Jelasnya.

Senada dengan Nuansa Garini, Hidayatullah pun menyatakan bahwa dia sudah mempersiapkan materi untuk membicarakan materi tentang peran alumni TImur Tengah di Indonesia. Namun karena alur diskusi pembicaraan memang tidak mengarah kesana maka materi yang dipersiapkan batal dipresentasikan. Mengenai hal ini, Ikhwan Hakin menyatakan bahwa alur diskusi tidak keluar dari tema. Dikarenakan menurutnya pembangunan bangsa tidak akan bisa terealisasi apabila pelajar-pelajar Timur Tengah-nya masih banyak yang harus diperbaiki.

Bagaimanapun acara yang menghabiskan total 6000 Le ini telah membuka kembali jalur dialog antar masisir yang telah lama vakum. Terdapat acara serupa yang membahas tentang problematika Masisir pada tahun 2008 yang bertajuk Loka Karya, namun acara tersebut hanya berlalu tanpa memberikan hasil  real. “Loka karya itu menghabiskan ratusan juta, banyak kalangan yang diundang. Namun acara nampak seperti adu orasi. Kita hanya ingin membuka ruang diskusi untuk mahasiswa”. Jelas Abay.

Abay menambahkan bahwa hasil diskusi ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah pemantik masisir untuk bangun dari tidurnya. Karena menurutnya sebagian besar isi diskusi hanya kritikan pada PPMI. “Belum ada yang bisa dibangun dari diskusi kemarin, isi diskusi hanya kritikan terhadap PPMI, hal yang perlu kita lakukan hanyalah bangun dan berkarya” tegasnya. Disisi lain, Hidayatullah menekankan bahwa setelah acara ini terdapat paling sedikit minimal dua buah pekerjaan rumah bagi PPMI, pertama untuk kembali membuka jalur diskusi antar punggawa Masisir dan mulai sedikit merealisasikan hal-hal yang menjadi intisari dari diskusi kolaboratif ini. Tentunya setiap dari Masisir tidak ingin apa yang dibicarakan hanya sebatas brainstorming  yang hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. (IbnuIdris)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar