Muammalat Hikmah - Informatika Mesir

Breaking

Sabtu, 15 Oktober 2016

Muammalat Hikmah



Oleh : Adam Dwi Baskoro
Panas udara Jakarta selalu mengembara. Angin ikut bersepoi-sepoi terasa mendinginkan walau tak sedingin udara gunung. Mira salah satu mahasiswi di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur ini mendapatkan pengalaman berharga. Bagaikan mutiara yang tersimpan!
Ia biasa pulang-pergi kuliah sambil melewati seorang nenek dengan pakaian yang sangat sederhana. Anehnya Nenek itu tidak meminta apa-apa ke orang. Yang ia lakukan hanyalah duduk di sebuah sofa tahun 70-an yang diletakkan di depan toko beras yang sudah ada dari dulu tanpa pemilik.
Hari demi hari Mira kuliah yang jalannya pasti selalu melewati nenek itu, hingga suatu saat ketika sedang berjalan kemudian tak sengaja melihatnya. Nenek itu pun membalas tatapannya yang tajam.
“Ah!” Mira terkejut.
“Ada apa?” tanya nenek itu sambil senyum.
Serentak Nenek pun membalas. “Nenek sudah tua dan mau pergi susah, nenek ingin ada seseorang yang membantu, setiap hari nenek hanya menunggu anak nenek yang mengantarnya. Tapi sekarang sudah jarang kesini lagi. Oh ya siapa nama kamu?” cerita nenek sambil sedih. Mira pun langsung menjawabnya,“Mira nek, hmm, oh gitu yaa nek.” Ia pun mohon pamit seraya pergi darinya.[A1] 
Esoknya ketika sedang berjalan ke arah kampus, ia melihatnya lagi. Nenek itu sedang diam tanpa berkata. "Sendirian lagi nih?” gumam hatinya.
“Mira,” kagetnya tetiba dipanggil nenek itu.
Ia pun mendekatinya.“Ada apa nek?”
“Kamu Mira yang kemaren?” balas nenek sambil bertanya.
“Hmm, i..” Lambat Mira. Sang nenek langsung mengangkat kepalanya menatap gadis usia 20 tahun ini. “Tolongin nenek mau?”
“Nolong apa nek? Ntar dulu nek, saya lagi banyak kerjaan,” jawabnya dengan muka yang mager  bantuin.
“Sekali saja masa tidak mau?” balas nenek dengan cepat. Mira terkejut atas sindiran si nenek.
“Saya kan belum jawab tidak,” bantahnya.
“Kenapa kamu tidak mau menolong saya?” ucap tajam sang nenek.
“Lha, siapa bilang saya tidak mau menolong, saya kan belum bilang nolak.” Wajah Mira mengerut.
“Tolong pergi ke stasiun Sudirman daerah Menteng, kasih kertas ini kepada seseorang,” suruh Nenek.
Kok kayak nyuruh sih? Padahal itu jauh banget, capek deh…” Hati kecil Mira membalas.
“Tidak usah, kamu silahkan pergi!!” tutur nenek itu sambil memalingkan pandangannya ke jalan di depannya.
"Lho?" gerang Mira.
“Kamu tahu kisah jalan ini?” tanya Nenek.
“Gak tau,” jawab Mira dengan spontan.
“Ya sudah sana pergi!!” kata nenek itu. Mira pun melangkahkan kaki seraya tak berbekas keingintahuan maksud dari nenek itu. "Hmm, padahal aku mau nolongin tadi…"
Besoknya ia pulang dari kampusnya ingin melewati jalan yang berbeda. Ia tidak ingin bertemu dengan nenek kemarin yang sudah dua hari berturut-turut tatap sapa dan obrol.
“Mira!” tiba-tiba nenek kemarin itu memanggilnya. Nenek itu duduk di sebuah kursi yang dekat dengan jalan besar sehingga ia bisa menemui gadis muda kemarin.
“Lho kok disitu? Hidupku kok kayak terpantau banget.Trus ngapain juga nenek itu manggil lagi, apa tinggalin aja.”Pertanyaan mia saling berkejaran dalam hati.
“Mira!” tetiba suara itu makin mengeras.
“Iihh, aku temuin aja dah nih orang, maunya apasih,” kesalnya sambil mendekati nenek tua nan renta itu.
“Kasih secarik kertas ini ke Mas Sofyan Teknisi KRL 3 di stasiun Sudirman. Kamu tanya orang di sana, dimana dia,” perintah nenek itu tanpa basa-basi.
“Hah?” Mira kaget. Ia pun terdiam seribu kata. Ia menatapi nenek itu dan mengambil kertas dari tangannya. Ia pun pergi tanpa pamit kepada si nenek.
“Males banget!” Kaki Mira terasa letih seperti mau lepas dari persendiannya.
Jarak stasiun itu lumayan jauh, sampai ia harus naik 3 kali naik angkutan umum dan sekali naik kereta. Ketika  sedang bejalan, pikirannya sangat terganggu untuk membantu si nenek itu akan kemalasannya  bahkan bukan hanya malas tapi enggan menolongnya.
“Udah lah aku balik saja, ngapain coba ngurusin orang lain bahkan yang aku kurang kenal,” hentak pikiran pun berubah ingin balik dan tidak menolongnya. Akan tetapi pikirannya itu masih labil.
Akhirnya ia sampai di suatu tempat yang tinggal setengah perjalanan lagi. “Hai Mira!” teriak salah satu teman perkuliahannya, Baska yang sedang mengendarai motor Supra X. “Lagi ngapain kamu?” tambahnya.
“Eh Baska, Ini aku lagi mau ke stasiun, ada urusan,” jawab Mira dengan sekilas.
“Napain? Mau pulang kampung? Hehe” Baska bertanya heran sambil terkekeh.
“Mau tahu aja,” jawabnya dengan sekilas dan menjengkelkan.
“Ya ampun ke teman sendiri, gak mau kasih tahu.Ya sudah, saya cabut dulu,” lanjut Baska sambil menyalakan mesin motornya.
Tiba-tiba Mira memanggilnya dan bertanya sesuatu “Baskaa, stasiun Sudirman dari sini jauh gak?”
“Sini naik! Mau kuantar tidak?” jawab Baska sambil bertanya. Betapa senangnya akhirnya Mira bisa  diantarkan  hingga sampai.
“Terima kasih yaa Bas, terima kasih banget,” ucap Mira sambil meletakkan kaki ke depan stasiun. “Sama-sama Mir, lain kali ada bantuan ngomong aja, jangan pelit ucapan!” kata Baska sambil senyum.
“Sip, intinya terima kasih deh,” balas Mira dengan tenang, karena telah sampai.
            TENG NONG TENG NONG.Suasana bunyi stasiun kereta terdengar sampai ke kupingnya.
“Permisi, numpang nanya, saya ingin ketemu mas Sofyan Teknisi KRL 3 disini,” tanyanya ke satpam stasiun.
“Maaf mbak, tidak ada yang namanya Sofyan yang kerja sebagai teknisi disini, dan saya sendiri Sofyan tapi saya sebagai satpam, mungkin yang mbak maksud saya kali,” terang satpam itu.
“Lah,,tapi ada yang namanya Sofyan tidak? Yang kerja disini,” Heran Mira pusing keliling.
“Cuman saya doang mbak,” yakin satpam itu.
“Mungkin mas kali ya yang saya tujukan, soalnya saya harus ngasih sesuatu dari seseorang,” lanjut Mira.
“Kertas bukan?” jawab satpam dengan cepat.
“Lha kok tahu?Iya, emang sebuah kertas,” Mira heran.
“Itu buat saya.Dari seorang ibu tua kan?Sini berikan ke saya! Maaf ya, namanya juga ibunya sudah tua mungkin agak sering lupa.”
Setelah menerima kertas itu, si satpam dengan spontan meyuruhnya untuk balik ke nenek itu.
“Ayo naik motor mbak, biar saya antarkan pulang, tapi ke ibu tua itu!”
“Lha ngapain ke nenek itu lagi?” kilasnya.
“Cepat, penting nih!” ujar satpam itu agar ia segera menaiki motornya.
“Oke, lumayan pulang gratis tapi ketemu ibu tua itu lagi, capek dehh,” Mira pun akhirnya pulang sekalian bertemu sang Nenek.
Nenek itu kembali bertemu dengan Mira sambil tersenyum. “Nah, sudah tidak pelit lagi kan?”
“Maksud?” bingung Mira.
"Sofyan, sini!" Sang Nenek menjelaskan sesuatu kepada satpam yang masih berdiri disebelahnya.
“Gini mbak, ibu ini adalah dokter psikologi saya waktu masih SMP,"
"Hah, psikolog?" Mira keceplosan.
"Dulu ia seorang psikolog di Rumah Sakit Mitra Depok, jadi ketika mbak setiap hari melewatinya, ibu ini sudah tahu watakmu ini, jadi semua ini hanya skenarionya  saja membuat mbak menolong kepada ibu ini,” lanjut satpam tersebut.
“Lalu saya kenapa? Terus kok ibu ini hidupnya sederhana banget sekarang bahkan kayak nenek yang sudah tak terawat?” tanya Mira.
“Itu karena ada masalah keluarganya, ya itu aibnya. Tapi alhamdulillah hidupnya masih sehat-sehat saja. Kemudian ia melihat anak muda sekarang lebih cuek. Tidak memperhatikan hal-hal di sekitarnya. Padahal kata ibu ini, mbak hampir setiap hari melewatinya dan saling tatap mata. Tapi kamu tidak menyapanya dengan senyum. Dari sini ia sudah tahu sifat asli mbak. Makanya ia mencoba untuk membuat mbak bisa lebih dekat dengannya. Ya dengan cara skenario tadi," terang satpam dengan jelas.
"Oh, gitu ya. Ya ampun, baru kali ini aku dikritik sama orang lain padahal teman sendiri aja masih belum berani mengkritikku. Kalau begitu terima kasih banget nek, mas Sofyan juga." Ada palu godam yang menampar nurani Mira dan ia sangat menyadarinya.
Barulah tersadar bahwa interaksi antar sesama itu penting walau sekedar senyuman. Kini ia tahu akan hakikat muamalah atau interaksi antar sesama. Dengan ketidakmauan Mira mengenal, menyapa, menolong seseorang, dan menganggap hal-hal yang ia temui itu tidak penting, menjadikannya buta akan hikmah di balik indahnya sosialisasi dan bermuamalah sesama manusia. Hal itu telah ia rasakan dari menolong seorang nenek itu yang awalnya ia anggap susah untuk menolongnya. Bahkan enggan untuk menemuinya.

Catatan:
1.      Pelajari lagi penulisan kalimat langsung dan tanda baca yang digunakan.
2.      Pelajari lagi terkait unsur cerpen, perwatakan. Bagaimana menulis dialog agar lebih hidup. Dialog di atas seolah-olah yang ngomong satu orang.
3.      Pelajari lagi fungsi kata sambung.
4.      Pelajari lagi cara menyambungkan kata sifat dengan kata benda, dan kata sifat tidak bisa menjadi kata kerja.
5.      Pelajari lagi perbedaan psikiater dan psikolog.
6.      Untuk penulisan judul, bisa diganti dengna yang lebih menarik. Penulisan judul seperti di atas, masih sama seperti penulisan Hikmah.
7.      Ayo ikutan kelas cerpen aja.






 [A1]Bagian pengalaman si nenek, dari pada dibuat kutipan langsung, lebih baik dikutipkan tidak langsung. Misalnya, “Keterkejutan Rudi berlanjut menjadi perbincangan singkat dengan si nenek. Ia jadi tahu bahwa ternya si nenek begini begini begini lanjutkan.

Kok tokoh Rudi tiba2 muncul? Lol.

Oleh: Adam Dwi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar